DENDAM ARIYA
BAB 1
Demo Mahasiswa Hukum Universitas Indonesia
Puluhan mahasiswa putra putri memenuhi jalan
di depan pintu gerbang Gedung XXX. Mereka bersama-sama menyuarakan
"turunkan mentri keuangan! Turunkan mentri korup...!" dengan
penuh ekspresi kebencian dan amarah. Mereka mengenakan jas almamater
Universitas Indonesia dan aksi demo tersebut dikawal oleh beberapa polisi yang
bertugas mengawasi kegiatan demo mahasiswa UI. Seorang pemuda yang nampak memimpin demo, berjalan maju kedepan, dengan
mikrovonnya ia berteriak “basmi koruptor di Indonesia…! Basmi koruptor di
Indonesia!!! Basmi koruptor di Indonesia”
Sebuah mobil sedan hitam keluar dari pintu
gerbang Gedung XXX dimana aksi melaju melewati kawanan mahasiswa yang sedang
berdemo. Seorang pria separuh baya sedang duduk dikursi belakang mobil
tersebut. Dari sisi kiri kaca mobil ia melihat aksi demo yang membuat ia tampak
geram. Dua orang pria berjas formal duduk dikursi depan mobil tersebut, salah
satunya sedang mengemudi. “Habisi provokator itu!” ucap pria separuh baya pada
pria yang duduk disamping pengemudi tadi.
“Baik” balasnya dengan patuh, seolah-olah
yang diperintahkan adalah hal yang biasa. Mobil tersebut melaju jauh
meninggalkan kumpulan mahasiswa yang sedang berdemo. Pria separuh baya tersebut
tidak lain adalah Menteri Keuangan dan ia telah memberi perintah kepada
asistennya, yaitu Bapak Astra dan yang mengemudi bernama Bapak Suhendra
Kembali pada aski demo yang sedang
berlangsung, pemimpin demo tampak masih bersemangat. “Banyak rakyat yang
menderita akibat ulah para koruptor! Kami mahasiswa Universitas sebagai penerus
bangsa tidak ingin…………………’’
Usai melakukan aksi demo, para mahasiswa
UI bersama-sama meninggalkan tempat demo. Diantara mereka ada yang mengendarai
sepeda motor dan ada pula yang mengendarai mobil pribadi. Sang pemimpin demo
mengendarai motor Revo bersama dengan seorang mahasiswi lainnya, mereka menyusuri
jalan jalan ibu kota Jakarta. Mahasiswa yang super pemberani ini adalah Adimas,
salah satu mahasiswa terbaik di Fakultas Hukum UI dan yang duduk dibelakang
Adimas adalah Ariya yang merupakan adik kandung Adimas. Mereka berdua adalah
mahasiswa dari Fakultas Hukum UI yang telah menggelar aksi demo terkait dugaan
tindak korupsi Menteri Keuangan Bapak Komaruddin.
Saat melewati jalanan sepi, sebuah mobil
Grand Max hitam menghadang perjalanan mereka. Adimas terkejut dan segera
menghentikan motornya. “Ada apa mas Adi?” tanya Ariya yang sedari tadi sibuk
memainkan hp. Adimas tidak lekas menjawab karena merasa dirinya sedang terancam
melihat beberapa laki laki yang tampak seperti preman keluar dari mobil
tersebut. Ariya pun melihat laki laki yang menghadang motor mereka sedang
menghampiri mereka dengan membawa pentungan. Dengan sekejap sekelompok pria
tersebut langsung memukuli Adimas dan menghancurkan sepeda motornya. Ariya menjerit
meminta pertolongan namun tidak satu pun orang yang melewati jalan itu. Ariya berusaha
melindungi tubuh Adimas yang dipukuli terus terusan oleh preman preman itu. Ariya
memeluk punggung Adimas yang membuatnya terkena pukulan juga oleh preman preman
tersebut dan kemudian tak sadarkan diri. Mereka terus memukuli Adimas, baik
kepala mau pun anggota tubuh lainnya. Darah berkucuran dari kepala Adimas.
Adimas dan Ariya yang tak sadarkan diri, ditidurkan dipinggir jalan.
Salah seorang preman berambur gondrong
mendekat pada Adimas. Ditaruhnya telunjuk jarinya dihidung Adimas dengan maksud
memeriksa. “Dia sudah tewas.” ucap preman itu penuh kegembiraan. “Tugas kita
sudah selesai, ayo cabut!” Dengan arahan dari preman itu, mereka semua masuk ke
dalam mobil dan meninggalkan tubuh Adimas dan Ariya terbujur kaku di pinggir
jalan.
*LANJUT BESOK YAAAAH :D
MONGGO KLU MAU NGASIH KRITIK DAN SARAN
Di tunggu tunggu koq belum ada kelanjutan cerita nya??
BalasHapus